Diperbarui: 06 Oktober 2026
Kepala terasa berat, tengkuk tegang, lalu muncul rasa pusing. "Pasti darah tinggi," pikir banyak orang, dan mereka pun langsung minum obat darah tinggi milik anggota keluarga atau mencari makanan yang katanya bisa menurunkan tekanan darah.
Kebiasaan ini keliru dalam dua hal. Pertama, pusing belum tentu tanda darah tinggi. Kedua, dan lebih berbahaya, darah tinggi sering tidak menimbulkan gejala sama sekali, sehingga dijuluki "pembunuh senyap".
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas mencapai 30,8% berdasarkan pengukuran tekanan darah. Artinya, sekitar tiga dari sepuluh orang dewasa memiliki tekanan darah tinggi. Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa jauh lebih banyak orang yang tekanan darahnya tinggi saat diukur dibanding yang sudah terdiagnosis dokter dan rutin berobat.
Artikel ini membantu Anda memahami hubungan tekanan darah dengan pusing, penyebab hipertensi, dan tanda yang tidak boleh diabaikan.
Tidak. Sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan keluhan apa pun, bahkan ketika tekanan darahnya sudah tinggi selama bertahun-tahun. Gejala seperti sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, telinga berdenging, atau jantung berdebar umumnya baru muncul ketika tekanan darah sudah sangat tinggi, dan keluhan tersebut juga bisa disebabkan banyak hal lain.
Karena itu, pusing tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai tekanan darah. Satu-satunya cara memastikan adalah dengan mengukurnya.
|
Kategori |
Sistolik (angka atas) |
Diastolik (angka bawah) |
|
Normal / optimal |
di bawah 130 mmHg |
di bawah 85 mmHg |
|
Normal tinggi |
130-139 mmHg |
85-89 mmHg |
|
Hipertensi derajat 1 |
140-159 mmHg |
90-99 mmHg |
|
Hipertensi derajat 2 |
160-179 mmHg |
100-109 mmHg |
|
Hipertensi derajat 3 |
180 mmHg atau lebih |
110 mmHg atau lebih |
Diagnosis hipertensi tidak ditegakkan dari satu kali pengukuran. Dokter menilai hasil pengukuran berulang pada waktu yang berbeda, dan sering dilengkapi pengukuran di rumah. Pada pengukuran di rumah, rata-rata 135/85 mmHg atau lebih umumnya sudah dianggap tinggi. Angka di atas adalah acuan umum, dan target tekanan darah setiap orang dapat berbeda tergantung kondisinya.
Sebagian besar kasus tidak memiliki satu penyebab tunggal. Kondisi ini berkembang perlahan dari gabungan faktor berikut:
• Konsumsi garam berlebihan, termasuk dari ikan asin, terasi, kecap, mi instan, dan makanan olahan
• Berat badan berlebih dan lingkar perut besar
• Kurang aktivitas fisik
• Merokok dan konsumsi alkohol
• Stres berkepanjangan dan kurang tidur
• Bertambahnya usia
• Riwayat keluarga dengan hipertensi
Pada sebagian orang, tekanan darah tinggi merupakan akibat dari kondisi lain, misalnya:
• Penyakit ginjal
• Gangguan hormon, seperti kelainan kelenjar adrenal atau tiroid
• Gangguan napas saat tidur (sleep apnea), yang ditandai mendengkur keras dan sering terbangun
• Obat tertentu, misalnya obat antinyeri golongan NSAID, kortikosteroid, pil KB, dan obat pilek pereda hidung tersumbat
• Kehamilan (hipertensi dalam kehamilan dan preeklamsia)
Penyebab sekunder perlu dicurigai bila hipertensi muncul pada usia muda, mendadak, atau sulit dikontrol meski sudah minum obat.
Pusing adalah keluhan yang penyebabnya sangat beragam. Berikut beberapa penyebab lain yang sering ditemui:
|
Kemungkinan penyebab |
Ciri yang sering menyertai |
|
Vertigo (gangguan telinga dalam) |
Rasa berputar, terutama saat mengubah posisi kepala, disertai mual |
|
Tekanan darah rendah atau turun saat berdiri |
Pusing atau berkunang-kunang saat bangun tiba-tiba |
|
Anemia |
Wajah pucat, lemas, mudah lelah, jantung berdebar |
|
Dehidrasi atau kurang makan |
Haus, mulut kering, lemas, gula darah rendah |
|
Sakit kepala tegang atau migrain |
Kepala terasa terikat atau berdenyut, mual, silau saat terkena cahaya |
|
Kurang tidur dan stres |
Sulit tidur, lelah, sulit berkonsentrasi |
|
Efek obat |
Pusing muncul setelah mulai atau mengubah dosis obat |
Karena penyebabnya beragam, ukur tekanan darah terlebih dahulu sebelum menyimpulkan. Jika tekanan darah normal namun pusing terus berulang, dokter akan mencari penyebab lain.
|
Segera ke IGD bila tekanan darah tinggi disertai: • Sakit kepala hebat yang muncul mendadak • Nyeri dada, sesak napas, atau jantung berdebar hebat • Gangguan penglihatan mendadak, seperti pandangan kabur atau ganda • Tanda stroke: wajah mencong atau senyum tidak simetris, lengan atau tungkai lemah pada satu sisi, bicara pelo atau sulit bicara, kebas atau kesemutan separuh tubuh • Kebingungan, sulit dibangunkan, atau kejang • Muntah terus-menerus • Ibu hamil dengan sakit kepala hebat, pandangan kabur, bengkak mendadak, atau nyeri ulu hati |
Bagaimana jika tekanan darah 180/120 mmHg atau lebih tetapi tanpa gejala? Duduk tenang selama 5 menit lalu ukur ulang. Jika tetap setinggi itu, segera hubungi dokter atau datang ke fasilitas kesehatan pada hari yang sama. Jangan menunggu sampai muncul gejala.
Pada dugaan stroke, waktu sangat menentukan. Jangan menunggu keluhan hilang sendiri dan jangan menyetir sendiri ke rumah sakit.
Tekanan yang terus tinggi merusak dinding pembuluh darah secara perlahan di seluruh tubuh. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:
• Stroke, baik akibat sumbatan maupun pecahnya pembuluh darah otak
• Penyakit jantung, termasuk serangan jantung dan gagal jantung
• Gagal ginjal
• Kerusakan mata yang dapat mengganggu penglihatan
• Penurunan fungsi berpikir dan gangguan pembuluh darah di tungkai
Kabar baiknya, hipertensi yang terdeteksi dini dan terkontrol dengan baik dapat menurunkan risiko komplikasi tersebut secara bermakna.
Hasil pengukuran mudah meleset bila caranya kurang tepat. Perhatikan langkah berikut:
1. Hindari kopi, merokok, dan olahraga minimal 30 menit sebelum mengukur, dan buang air kecil terlebih dahulu
2. Duduk tenang dan bersandar selama 5 menit, kaki menapak lantai dan tidak disilangkan
3. Letakkan lengan di atas meja sehingga manset sejajar dengan jantung
4. Gunakan manset dengan ukuran yang sesuai dan pasang langsung pada kulit lengan, bukan di atas baju tebal
5. Jangan berbicara selama pengukuran
6. Ukur 2 kali dengan jeda 1 menit, lalu catat rata-ratanya. Lakukan pagi dan malam selama beberapa hari, dan bawa catatan itu saat berobat
• Usia di atas 40 tahun, dan risiko meningkat seiring usia
• Ada orang tua atau saudara kandung dengan hipertensi
• Berat badan berlebih atau lingkar perut besar
• Diabetes, kolesterol tinggi, atau penyakit ginjal
• Perokok dan peminum alkohol
• Pola makan tinggi garam dan makanan olahan
• Jarang berolahraga
• Sering mendengkur keras atau sering terbangun malam hari
• Rutin minum obat antinyeri atau obat lain yang dapat menaikkan tekanan darah
• Tekanan darah Anda 140/90 mmHg atau lebih pada dua kali pengukuran atau lebih
• Anda belum pernah mengukur tekanan darah dalam beberapa bulan terakhir, terutama bila berusia di atas 40 tahun atau punya faktor risiko
• Pusing, sakit kepala, atau tengkuk tegang sering berulang
• Anda memiliki keluarga dengan hipertensi, stroke, atau penyakit jantung
• Anda sedang hamil dan tekanan darah meningkat
• Anda sudah minum obat tetapi tekanan darah tetap tinggi
Dokter akan menanyakan keluhan, riwayat keluarga, pola makan, kebiasaan merokok, serta obat dan suplemen yang Anda konsumsi, lalu mengukur tekanan darah dengan benar. Bergantung pada kondisi Anda, pemeriksaan lanjutan dapat meliputi:
• Pemeriksaan darah, seperti gula darah, kolesterol, fungsi ginjal, dan elektrolit
• Pemeriksaan urine untuk melihat adanya protein yang menandakan gangguan ginjal
• EKG untuk menilai irama dan beban kerja jantung
• Pemeriksaan mata untuk melihat kondisi pembuluh darah retina
• Pemeriksaan tambahan, seperti USG jantung atau ginjal, bila diperlukan
Tidak semua pasien memerlukan seluruh pemeriksaan ini. Dokter akan menentukan yang paling sesuai.
1. Kurangi garam. Batasi total garam tidak lebih dari sekitar 1 sendok teh (5 gram) per hari, termasuk yang tersembunyi dalam makanan olahan, ikan asin, dan bumbu instan.
2. Perbanyak sayur dan buah, serta kurangi makanan berlemak dan gorengan.
3. Aktif bergerak. Usahakan aktivitas fisik intensitas sedang, misalnya jalan cepat, sekitar 150 menit per minggu, sesuai kemampuan dan saran dokter.
4. Turunkan berat badan bila berlebih. Penurunan berat badan dapat membantu menurunkan tekanan darah.
5. Berhenti merokok dan batasi alkohol.
6. Tidur cukup dan kelola stres, misalnya dengan relaksasi, ibadah, atau aktivitas yang Anda sukai.
Langkah ini penting, tetapi pada banyak penderita hipertensi tetap diperlukan obat. Jangan menghentikan atau mengurangi obat sendiri hanya karena merasa sudah sehat.
|
Jangan minum obat darah tinggi hanya saat pusing Obat hipertensi bekerja dengan pemakaian rutin sesuai resep, bukan hanya saat ada keluhan. Meminum obat milik orang lain atau menambah dosis sendiri dapat membuat tekanan darah turun terlalu rendah sehingga menimbulkan pusing, lemas, hingga jatuh. Waspadai juga obat pereda nyeri yang diminum rutin, karena dapat menaikkan tekanan darah dan membebani lambung serta ginjal. Baca selengkapnya di artikel kami: Sering Pegal dan Nyeri Sendi, Kapan Keluhan Perlu Diperiksa. Bila hipertensi disertai diabetes, pengendalian keduanya harus berjalan bersama. Pelajari tanda diabetes di artikel: Sering Haus dan Buang Air Kecil, Kenali Gejala Diabetes. |
Jangan menunggu pusing atau gejala lain untuk memeriksakan diri. Tim dokter di RS Efarina Etaham Pematangsiantar siap membantu memeriksa tekanan darah Anda, mencari penyebabnya, dan mendampingi pengendaliannya dalam jangka panjang.
|
Informasi Kontak & Layanan Alamat: Jl. Pendeta J. Wismar Saragih No. 1, Kel. Bane, Kec. Siantar Utara, Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara 21137 Telepon / WhatsApp: 0812 6397 8886 | 0813 8778 081 Jam poliklinik Penyakit Dalam: Senin-Jumat 09.00-17.00 WIB, Sabtu 09.00-15.00 WIB IGD 24 jam: (0622) 7434507 [ Buat Janji Konsultasi Sekarang ] (tombol CTA ke halaman pendaftaran atau WhatsApp) |
Umumnya tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih pada pengukuran berulang disebut hipertensi. Pada pengukuran di rumah, rata-rata 135/85 mmHg atau lebih sudah dianggap tinggi. Diagnosis akhir ditentukan dokter.
Tidak. Pusing bisa disebabkan vertigo, anemia, dehidrasi, migrain, kurang tidur, atau tekanan darah rendah. Sebaliknya, banyak penderita hipertensi tidak merasakan gejala sama sekali. Ukur tekanan darah untuk memastikan.
Hipertensi primer umumnya tidak dijanjikan sembuh, tetapi dapat dikontrol dengan baik lewat gaya hidup sehat dan obat bila diperlukan. Pada hipertensi sekunder, tekanan darah dapat membaik bila penyebabnya ditangani. Kontrol rutin tetap diperlukan.
Bukti ilmiahnya terbatas dan efeknya tidak sekuat obat. Makanan sehat seperti sayur dan buah baik dikonsumsi, tetapi jangan menggantikan obat dari dokter dengan ramuan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu.
Bisa. Hipertensi pada usia muda, terutama di bawah 40 tahun, perlu diperiksa lebih teliti karena bisa berkaitan dengan penyebab sekunder seperti gangguan ginjal atau hormon, selain faktor gaya hidup.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan dari tenaga medis. Jika Anda mengalami kondisi darurat, segera hubungi IGD atau layanan gawat darurat terdekat.
Referensi: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023; Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI), konsensus penatalaksanaan hipertensi; Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI); World Health Organization (WHO), materi tentang hipertensi.
(DesmanSiahaan)
© Copyright 2022 Rumah Sakit Efarina Siantar. All Rights Reserved.