Bangun tidur badan terasa kaku. Lutut nyeri saat naik tangga. Pergelangan tangan pegal setelah bekerja. Banyak orang menyebutnya "pegal linu" atau "rematik", lalu mengatasinya dengan balsem, pijat, atau obat pereda nyeri yang dibeli di warung.
Keluhan seperti ini memang sangat umum. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi penyakit sendi pada penduduk Indonesia usia 15 tahun ke atas tercatat sekitar 7,3%, dan angkanya meningkat seiring bertambahnya usia. Tetapi tidak semua pegal dan nyeri sendi itu sama. Sebagian hanya kelelahan otot yang membaik dengan istirahat. Sebagian lain adalah tanda penyakit yang perlu ditangani sejak dini agar sendi tidak rusak permanen.
Artikel ini membantu Anda membedakan keduanya dan mengenali kapan keluhan sudah waktunya diperiksa.
|
Aspek |
Pegal biasa |
Perlu dicurigai |
|
Pemicu |
Jelas: aktivitas berat, olahraga, salah posisi tidur, kurang tidur |
Tidak jelas, muncul tanpa sebab |
|
Lama keluhan |
Membaik dalam 1-3 hari |
Berlangsung lebih dari 2 minggu atau sering kambuh |
|
Dengan istirahat |
Membaik |
Tidak membaik atau tetap nyeri saat malam |
|
Sendi |
Tidak bengkak |
Bengkak, hangat, kemerahan, atau kaku lama |
|
Gejala lain |
Tidak ada |
Demam ringan, lemas berkepanjangan, berat badan turun, ruam kulit |
Dokter biasanya membedakan nyeri sendi menjadi dua pola besar. Perbedaan ini penting karena penanganannya berbeda.
|
Ciri |
Cenderung degeneratif (mis. osteoartritis) |
Cenderung radang (mis. reumatoid, asam urat) |
|
Kaku pagi hari |
Umumnya kurang dari 30 menit |
Lebih dari 30 menit, bisa berjam-jam |
|
Pola nyeri |
Memburuk saat beraktivitas atau berdiri lama, membaik saat istirahat |
Nyeri saat istirahat atau malam hari, terasa lebih ringan setelah bergerak |
|
Tampilan sendi |
Kadang sedikit bengkak, terdengar berbunyi saat digerakkan |
Bengkak, hangat, kadang merah |
|
Sendi yang sering terkena |
Lutut, pinggul, tulang belakang, ujung jari |
Sendi kecil tangan dan kaki kiri-kanan (reumatoid); jempol kaki (asam urat) |
|
Awitan |
Bertahap, berbulan-bulan hingga tahunan |
Bisa mendadak (asam urat) atau bertahap dalam beberapa minggu (reumatoid) |
|
Gejala lain |
Jarang |
Lemas, demam ringan, berat badan turun |
Tabel ini hanya panduan awal. Beberapa kondisi bisa saling tumpang tindih, sehingga diagnosis tetap harus ditegakkan dokter.
Bantalan tulang rawan sendi menipis seiring waktu, sehingga sendi terasa nyeri dan kaku. Risikonya meningkat pada usia di atas 40-50 tahun, berat badan berlebih, riwayat cedera sendi, dan pekerjaan yang membebani lutut atau pinggul secara berulang.
Kristal asam urat menumpuk di sendi dan memicu serangan nyeri mendadak, biasanya pada jempol kaki, dengan sendi tampak merah, bengkak, dan sangat nyeri saat disentuh. Serangan sering muncul malam hari.
Penyakit autoimun, yaitu sistem kekebalan tubuh menyerang lapisan sendi sendiri. Gejalanya khas berupa nyeri dan bengkak pada sendi kecil tangan dan kaki di kedua sisi tubuh, disertai kaku pagi hari yang lama. Bila terlambat ditangani, sendi dapat rusak dan berubah bentuk.
Nyeri sendi dapat menjadi gejala awal lupus, sering bersama ruam di wajah, sariawan berulang, rambut rontok, sangat sensitif terhadap sinar matahari, dan lemas berkepanjangan. Kondisi ini lebih sering terjadi pada perempuan usia produktif.
Kondisi dengan nyeri otot dan jaringan lunak menyebar ke seluruh tubuh, disertai lelah, tidur tidak nyenyak, dan sulit berkonsentrasi. Diagnosisnya ditegakkan setelah penyebab lain disingkirkan.
Nyeri sendi dan otot dapat menyertai infeksi virus seperti demam berdarah dengue atau chikungunya. Infeksi langsung pada sendi (artritis septik) lebih jarang, tetapi merupakan kondisi darurat.
Gerakan berulang, mengangkat beban, duduk lama dengan posisi salah, atau olahraga mendadak tanpa pemanasan dapat menyebabkan radang otot, tendon, atau ligamen di sekitar sendi.
Kadar vitamin D yang rendah, hipotiroid (kelenjar tiroid kurang aktif), dan efek samping obat tertentu, termasuk obat penurun kolesterol golongan statin, dapat menimbulkan nyeri otot atau sendi. Jangan menghentikan obat sendiri. Diskusikan dengan dokter.
Di masyarakat, hampir semua nyeri sendi disebut "asam urat". Padahal:
• Kadar asam urat tinggi belum tentu menimbulkan gejala, dan sebaliknya, nyeri sendi bisa terjadi tanpa asam urat tinggi.
• Nyeri lutut pada orang berusia di atas 40 tahun lebih sering karena pengapuran, bukan asam urat.
• Bila hanya mengandalkan cek asam urat lalu menghindari makanan tertentu, penyakit lain seperti reumatoid dapat terlewat.
Sebagai acuan umum, kadar asam urat dianggap tinggi bila di atas sekitar 7 mg/dL pada pria dan 6 mg/dL pada wanita, meski rentang normal dapat berbeda antar laboratorium.
|
Segera periksa ke dokter atau IGD bila keluhan sendi disertai: • Satu sendi tiba-tiba merah, panas, bengkak, dan sangat nyeri, terutama disertai demam atau menggigil • Sendi tidak bisa digerakkan atau tidak sanggup menopang berat badan, atau tampak berubah bentuk setelah cedera • Nyeri punggung disertai kelemahan atau kebas pada kedua tungkai dan sulit menahan buang air kecil atau besar • Kelemahan otot mendadak, atau urine berwarna cokelat gelap setelah aktivitas berat • Betis atau tungkai satu sisi bengkak, nyeri, dan hangat, terlebih bila disertai sesak napas atau nyeri dada • Nyeri sendi hebat mendadak yang tidak tertahankan |
Meski tanpa tanda bahaya di atas, konsultasikan ke dokter bila:
• Pegal atau nyeri sendi berlangsung lebih dari 2 minggu atau sering kambuh
• Kaku pagi hari berlangsung lebih dari 30 menit
• Sendi tampak bengkak, hangat, atau kemerahan
• Nyeri membangunkan Anda di malam hari
• Nyeri mengganggu aktivitas, pekerjaan, atau tidur
• Nyeri sendi disertai ruam kulit, sariawan berulang, rambut rontok, demam ringan, atau berat badan turun
• Ada beberapa sendi terkena sekaligus, terutama sendi kecil tangan dan kaki
• Anda memiliki riwayat keluarga penyakit autoimun atau reumatik
• Anda rutin minum obat pereda nyeri agar bisa beraktivitas
Pemeriksaan dini penting terutama untuk penyakit radang sendi. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang mencegah kerusakan sendi.
Siapa yang Lebih Berisiko?
• Berusia di atas 40 tahun
• Berat badan berlebih atau obesitas
• Perempuan (untuk osteoartritis, reumatoid, dan lupus)
• Riwayat keluarga dengan nyeri sendi, asam urat, atau penyakit autoimun
• Pekerjaan yang menuntut berdiri lama, jongkok, atau mengangkat beban
• Riwayat cedera sendi sebelumnya
• Diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi
• Konsumsi alkohol berlebihan dan pola makan tinggi purin (jeroan, daging merah berlebihan, sebagian seafood)
Dokter akan menanyakan sendi mana yang nyeri, sejak kapan, pola kaku pagi hari, riwayat keluarga, dan obat yang dikonsumsi, lalu memeriksa sendi Anda secara langsung. Pemeriksaan lanjutan dapat meliputi:
• Pemeriksaan darah, seperti darah lengkap, penanda peradangan (LED dan CRP), dan asam urat
• Pemeriksaan autoimun, seperti faktor reumatoid, anti-CCP, atau ANA, bila dicurigai
• Fungsi ginjal, hati, tiroid, dan vitamin D, sesuai kebutuhan
• Rontgen atau USG sendi untuk melihat kondisi tulang, tulang rawan, dan cairan sendi
• Pemeriksaan cairan sendi pada kasus tertentu
Tidak semua pasien memerlukan seluruh pemeriksaan ini. Dokter akan menentukan yang paling sesuai dengan kondisi Anda.
1. Istirahatkan sendi secara relatif. Kurangi aktivitas yang memicu nyeri, tetapi jangan berhenti bergerak sama sekali.
2. Kompres dingin selama 15-20 menit pada sendi yang baru cedera, bengkak, atau sedang serangan nyeri hebat. Kompres hangat untuk otot pegal dan sendi yang kaku.
3. Tetap aktif dengan gerakan ringan, seperti jalan santai, berenang, atau bersepeda santai. Pada osteoartritis, olahraga ringan justru membantu.
4. Kendalikan berat badan. Setiap kelebihan berat badan menambah beban pada lutut dan pinggul.
5. Perbaiki posisi duduk dan kerja, dan ubah posisi setiap 30-60 menit bila duduk lama.
6. Catat keluhan: sendi mana, kapan muncul, berapa lama kaku pagi hari, lalu bawa catatan itu saat berobat.
|
Waspadai obat pereda nyeri dan produk pegal linu Obat antinyeri seperti ibuprofen, asam mefenamat, dan natrium diklofenak, bila diminum rutin tanpa anjuran dokter, dapat melukai lambung, membebani ginjal, dan menaikkan tekanan darah. Pelajari dampaknya pada lambung di artikel kami: Perut Perih dan Mual, Jangan Langsung Menganggap Itu Maag. Hindari juga jamu atau obat pegal linu yang tidak terdaftar di BPOM. Produk ilegal pernah ditemukan mengandung bahan kimia obat, termasuk steroid, yang berbahaya bila dipakai tanpa pengawasan. |
Jangan biarkan nyeri sendi membatasi aktivitas Anda atau menunggu sampai sendi rusak. Tim dokter di RS Efarina Etaham Pematangsiantar siap membantu memeriksa dan menemukan penyebab keluhan Anda, sehingga penanganan yang diberikan tepat sasaran.
|
Informasi Kontak & Layanan Alamat: Jl. Pendeta J.Wismar Saragih No.1, Kel. Bane, Kec. Siantar Utara, Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara 21137 Telepon / WhatsApp: -081263978886 Jam poliklinik Penyakit Dalam: Senin-Jumat 09.00-17.00 WIB, Sabtu 09.00-15.00 WIB Layanan terkait: [Poli Ortopedi / Rehabilitasi Medik / laboratorium / radiologi, sesuai layanan RS] IGD 24 jam: -(0622) 7434507 Buat Janji Konsultasi Sekarang |
Tidak. Nyeri sendi bisa disebabkan pengapuran, radang sendi autoimun, cedera, infeksi, dan penyebab lain. Kadar asam urat tinggi juga belum tentu menimbulkan gejala. Diagnosis pasti memerlukan pemeriksaan dokter.
Kaku pagi hari bisa terjadi pada pengapuran sendi, biasanya kurang dari 30 menit, maupun pada radang sendi seperti reumatoid, yang biasanya lebih lama. Bila kaku berlangsung lebih dari 30 menit atau berulang, sebaiknya periksa ke dokter.
Kompres dingin cocok untuk cedera baru, bengkak, atau serangan nyeri mendadak. Kompres hangat cocok untuk otot pegal dan sendi kaku. Bila sendi tampak merah, panas, dan bengkak, sebaiknya segera periksa ke dokter.
Bunyi tanpa nyeri dan tanpa bengkak umumnya tidak berbahaya. Namun bila disertai nyeri, bengkak, atau sendi terasa terkunci, sebaiknya diperiksa.
Tidak dianjurkan tanpa pengawasan dokter. Pemakaian rutin dapat menimbulkan gangguan lambung, ginjal, dan tekanan darah. Bila Anda merasa perlu meminumnya terus-menerus, itu tanda Anda perlu diperiksa.
Umumnya dokter spesialis penyakit dalam, atau konsultan reumatologi untuk penyakit autoimun dan radang sendi. Untuk cedera atau kerusakan struktur sendi, dokter spesialis ortopedi, dan untuk pemulihan gerak, dokter rehabilitasi medik.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan dari tenaga medis. Jika Anda mengalami kondisi darurat, segera hubungi IGD atau layanan gawat darurat terdekat.
Referensi: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018; Perhimpunan Reumatologi Indonesia (IRA); Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI); American College of Rheumatology; Badan POM RI.
© Copyright 2022 Rumah Sakit Efarina Siantar. All Rights Reserved.