Diperbarui: 03 Oktober 2026
Belakangan ini Anda lebih sering minum, tetapi tetap merasa haus. Malam hari terbangun beberapa kali untuk buang air kecil. Badan terasa cepat lelah, namun Anda menganggapnya efek kesibukan atau bertambahnya usia.
Keluhan seperti ini sering dianggap sepele. Padahal, sering haus dan sering buang air kecil adalah dua gejala klasik diabetes, penyakit yang di Indonesia jumlahnya sangat besar. Menurut IDF Diabetes Atlas 2025, sekitar 20,4 juta penduduk Indonesia usia 20-79 tahun hidup dengan diabetes, menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia. Kementerian Kesehatan juga menyoroti bahwa masih banyak kasus yang belum terdeteksi.
Artikel ini membantu Anda mengenali gejala diabetes, termasuk yang sering terlewat, serta menjelaskan kapan sebaiknya memeriksakan gula darah.
Pada diabetes, gula (glukosa) menumpuk di dalam darah karena insulin kurang atau tidak bekerja dengan baik. Ketika kadarnya terlalu tinggi, ginjal berusaha membuang kelebihan gula tersebut lewat urine. Gula yang dibuang ikut menarik banyak air, sehingga Anda lebih sering dan lebih banyak buang air kecil, termasuk di malam hari.
Akibatnya, tubuh kehilangan cairan dan menjadi kekurangan air. Sinyal inilah yang membuat Anda terus-menerus merasa haus, meski sudah banyak minum.
|
Kelompok |
Gejala |
|
Gejala klasik |
Sering haus; sering buang air kecil (terutama malam hari); cepat lapar meski sudah makan; berat badan turun tanpa sebab yang jelas |
|
Sering diabaikan |
Mudah lelah dan lemas; pandangan kabur; luka sulit sembuh; kesemutan atau kebas di tangan dan kaki; kulit gatal atau sangat kering; infeksi berulang (jamur, saluran kemih, gusi); mulut kering; bercak kulit gelap dan menebal di leher atau ketiak |
Tidak semua orang mengalami semua gejala ini. Pada diabetes tipe 2, gejala sering berkembang perlahan sehingga sebagian orang baru menyadarinya setelah bertahun-tahun, bahkan saat komplikasi sudah muncul.
• Muncul perlahan. Tubuh beradaptasi sehingga keluhan terasa "biasa".
• Dianggap kelelahan atau faktor usia. Lemas dan sering ke kamar mandi dinilai wajar.
• Tidak terasa sakit. Gula darah tinggi sering tidak menimbulkan nyeri, sehingga orang tidak merasa perlu berobat.
• Salah kaprah tentang penyebab. Banyak yang mengira diabetes hanya menyerang orang gemuk atau lansia, atau hanya karena terlalu banyak makan gula.
Belum tentu. Keluhan serupa juga bisa muncul karena:
• Minum banyak cairan, kopi, atau teh dalam jumlah besar
• Infeksi saluran kemih
• Efek obat tertentu, misalnya obat pelancar kencing (diuretik)
• Gangguan ginjal
• Pembesaran prostat pada pria, yang sering menyebabkan buang air kecil di malam hari
• Kondisi langka seperti diabetes insipidus
Karena penyebabnya beragam, satu-satunya cara memastikan adalah pemeriksaan gula darah dan evaluasi oleh dokter.
• Berat badan berlebih atau lingkar perut besar (pria di atas 90 cm, wanita di atas 80 cm)
• Ada anggota keluarga inti (orang tua atau saudara kandung) dengan diabetes
• Kurang aktivitas fisik
• Tekanan darah tinggi atau kolesterol/trigliserida tinggi
• Usia di atas 35-45 tahun
• Pernah mengalami diabetes saat hamil atau melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg
• Sindrom ovarium polikistik (PCOS)
• Merokok dan pola makan tinggi gula dan lemak
Gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan saraf di seluruh tubuh. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain:
• Mata: gangguan penglihatan hingga kebutaan (retinopati)
• Ginjal: kerusakan ginjal yang dapat berlanjut menjadi gagal ginjal
• Saraf: kesemutan, kebas, atau nyeri di kaki dan tangan
• Jantung dan pembuluh darah: penyakit jantung dan stroke
• Kaki: luka yang sulit sembuh dan mudah terinfeksi (kaki diabetik)
Kabar baiknya, semakin dini diabetes ditemukan dan dikendalikan, semakin besar peluang mencegah atau menunda komplikasi tersebut.
|
Segera periksa ke dokter atau IGD bila keluhan diabetes disertai: • Mual, muntah, atau nyeri perut hebat • Napas cepat dan dalam, atau napas berbau buah/aseton • Sangat lemas, mengantuk berlebihan, bingung, atau hampir pingsan • Tanda dehidrasi berat: mulut sangat kering, pusing, jantung berdebar, urine sangat sedikit • Luka di kaki yang membengkak, bernanah, berbau, atau berwarna kehitaman • Penglihatan menurun mendadak |
Diagnosis ditegakkan lewat pemeriksaan darah oleh tenaga medis. Berikut acuan yang umum digunakan:
|
Pemeriksaan |
Normal |
Prediabetes |
Diabetes |
|
Gula darah puasa (puasa minimal 8 jam) |
di bawah 100 mg/dL |
100-125 mg/dL |
126 mg/dL atau lebih |
|
Gula darah 2 jam setelah beban glukosa (TTGO) |
di bawah 140 mg/dL |
140-199 mg/dL |
200 mg/dL atau lebih |
|
HbA1c (rata-rata gula darah 2-3 bulan) |
di bawah 5,7% |
5,7-6,4% |
6,5% atau lebih |
|
Gula darah sewaktu |
- |
- |
200 mg/dL atau lebih disertai gejala klasik |
Angka di atas hanya acuan. Interpretasi hasil, termasuk perlunya pemeriksaan ulang, ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi Anda. Prediabetes bukan kondisi yang boleh diabaikan, karena masih ada kesempatan untuk mencegahnya berkembang menjadi diabetes lewat perubahan gaya hidup.
• Anda mengalami sering haus, sering buang air kecil, atau gejala lain di atas
• Anda memiliki satu atau lebih faktor risiko, meski belum ada keluhan
• Anda berusia dewasa dan belum pernah memeriksakan gula darah, terutama di atas 35-45 tahun
• Anda pernah dinyatakan prediabetes dan perlu pemantauan berkala
Diabetes adalah kondisi kronis yang dapat dikendalikan. Penanganan yang dirancang dokter umumnya mencakup:
• Pengaturan pola makan yang seimbang, bukan berhenti makan
• Aktivitas fisik teratur sesuai kemampuan
• Obat atau insulin bila diperlukan, sesuai resep dan jadwal dari dokter
• Pemantauan gula darah dan kontrol rutin
• Pemeriksaan berkala mata, ginjal, saraf, dan kaki untuk mendeteksi komplikasi sejak dini
Hindari menghentikan obat sendiri saat merasa sehat, atau mengganti pengobatan dengan produk herbal atau suplemen tanpa berkonsultasi dengan dokter.
1. Jangan menahan haus atau mengurangi minum air putih agar tidak sering ke kamar mandi
2. Kurangi minuman manis, seperti teh manis, kopi kemasan, dan minuman bersoda
3. Atur porsi nasi dan camilan manis, serta perbanyak sayur
4. Mulai bergerak aktif, misalnya jalan kaki rutin
5. Periksa kaki setiap hari dan segera tangani bila ada luka
6. Catat gejala, riwayat keluarga, dan obat yang dikonsumsi untuk dibawa saat berobat
Langkah ini baik untuk kesehatan secara umum, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan gula darah.
Jangan tunggu sampai muncul komplikasi. Jika Anda mengalami sering haus, sering buang air kecil, atau memiliki faktor risiko diabetes, tim dokter di RS Efarina Etaham Pematangsiantar siap membantu memeriksa dan mendampingi Anda.
|
Informasi Kontak & Layanan Alamat: Jl. Pendeta J.Wismar Saragih No.1, Kel. Bane, Kec. Siantar Utara, Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara 21137 Telepon / WhatsApp: -0812 6397 8886 Jam poliklinik Penyakit Dalam: Senin-Jumat 09.00-17.00, Sabtu 09.00-15.00 Pemeriksaan tersedia: [gula darah puasa/sewaktu, HbA1c, dll. sesuai layanan RS] IGD 24 jam: (0622) 7434507 Buat Janji Konsultasi Sekarang |
Tidak selalu. Penyebab lain antara lain banyak minum sebelum tidur, infeksi saluran kemih, pembesaran prostat, dan efek obat. Namun jika disertai sering haus, mudah lelah, atau berat badan turun, sebaiknya periksa gula darah.
Umumnya gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih, gula darah 2 jam setelah beban glukosa 200 mg/dL atau lebih, atau HbA1c 6,5% atau lebih. Gula darah sewaktu 200 mg/dL atau lebih disertai gejala klasik juga mengarah ke diabetes. Diagnosis akhir ditentukan dokter.
Diabetes tipe 2 umumnya tidak dapat dijanjikan sembuh permanen, tetapi dapat dikendalikan. Pada sebagian orang, gula darah bisa terkontrol dalam jangka panjang dengan penurunan berat badan dan pengelolaan yang tepat. Tetap diperlukan pemantauan dan kontrol rutin ke dokter.
Tergantung jenis pemeriksaannya. Gula darah puasa memerlukan puasa minimal 8 jam. Gula darah sewaktu dan HbA1c biasanya tidak memerlukan puasa. Tanyakan persiapan yang tepat saat mendaftar.
Alat cek gula darah di rumah berguna untuk pemantauan, tetapi diagnosis diabetes sebaiknya ditegakkan lewat pemeriksaan laboratorium dan evaluasi dokter.
Ya. Diabetes tipe 1 umumnya muncul pada anak dan remaja, sedangkan diabetes tipe 2 makin sering ditemukan pada usia lebih muda, terutama pada mereka yang berat badan berlebih dan kurang aktif.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan dari tenaga medis. Jika Anda mengalami kondisi darurat, segera hubungi IGD atau layanan gawat darurat terdekat.
Referensi: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2; International Diabetes Federation (IDF), Diabetes Atlas 2025; American Diabetes Association, Standards of Care in Diabetes; World Health Organization (WHO).
© Copyright 2022 Rumah Sakit Efarina Siantar. All Rights Reserved.