Diperbarui: 05 Oktober 2026
Diare biasanya dianggap penyakit ringan. Minum oralit, istirahat, makan yang lembut, dan dalam beberapa hari perut kembali normal. Tetapi bagaimana jika sudah seminggu, dua minggu, bahkan berbulan-bulan, buang air besar Anda masih cair atau tidak menentu?
Diare yang tidak kunjung sembuh bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa. Kondisi ini bisa disebabkan oleh infeksi yang belum tuntas, intoleransi makanan, efek obat, hingga penyakit peradangan usus. Pada sebagian kasus, ini juga bisa menjadi tanda awal kelainan serius di usus besar. Artikel ini membantu Anda memahami penyebabnya dan mengenali kapan harus segera ke dokter.
Diare didefinisikan sebagai buang air besar dengan tinja cair atau lembek tiga kali atau lebih dalam sehari. Berdasarkan lamanya, diare pada orang dewasa dibedakan menjadi:
|
Jenis diare |
Lama keluhan |
Keterangan |
|
Akut |
Kurang dari 2 minggu |
Paling sering disebabkan infeksi virus, bakteri, atau makanan yang tidak higienis |
|
Persisten |
2 sampai 4 minggu |
Perlu dicari penyebabnya, misalnya infeksi yang belum tuntas atau intoleransi makanan |
|
Kronis |
Lebih dari 4 minggu |
Memerlukan pemeriksaan menyeluruh oleh dokter |
Jika diare Anda sudah masuk kategori persisten atau kronis, jangan menunggu sembuh sendiri.
Beberapa infeksi, terutama akibat parasit seperti Giardia atau amuba, dapat bertahan berminggu-minggu bila tidak diobati dengan tepat. Diare akibat bakteri juga bisa berlarut bila penanganannya tidak sesuai penyebabnya.
Antibiotik membunuh bakteri jahat, tetapi juga bakteri baik di usus. Pada sebagian orang, hal ini memicu diare yang berlangsung lama, termasuk infeksi bakteri Clostridioides difficile yang memerlukan pengobatan khusus. Bila diare muncul selama atau setelah pemakaian antibiotik, beri tahu dokter.
Intoleransi laktosa (gula susu) membuat perut kembung dan diare setelah minum susu atau makan produk olahannya. Pemanis buatan tertentu, seperti sorbitol pada permen atau minuman "bebas gula", juga bisa memicu diare. Pada sebagian orang, penyebabnya adalah penyakit celiac, yaitu reaksi tubuh terhadap gluten.
IBS ditandai nyeri atau tidak nyaman di perut yang berhubungan dengan perubahan pola buang air besar, bisa diare, sembelit, atau bergantian. Kondisi ini tidak berbahaya, tetapi diagnosisnya baru boleh ditegakkan setelah penyebab lain disingkirkan.
Kolitis ulseratif dan penyakit Crohn adalah peradangan kronis pada usus. Gejalanya dapat berupa diare berulang, nyeri perut, tinja berlendir atau berdarah, berat badan turun, dan mudah lelah.
Sejumlah obat dapat menyebabkan diare berkepanjangan, misalnya obat diabetes tertentu (metformin), antasida yang mengandung magnesium, obat pencahar, dan beberapa obat lainnya. Jangan menghentikan obat sendiri. Diskusikan dengan dokter yang meresepkannya.
Kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroid) dan kerusakan saraf akibat diabetes dapat mengganggu gerak usus. Gangguan pankreas atau empedu juga dapat menyebabkan lemak tidak terserap dengan baik, ditandai tinja berminyak, berbau menyengat, dan mengambang.
Perubahan pola buang air besar yang menetap, terutama pada usia di atas 45 tahun, tidak boleh diabaikan. Bila disertai darah pada tinja, berat badan turun, atau anemia, dokter biasanya akan menganjurkan pemeriksaan usus lebih lanjut.
Pada lansia, tinja keras yang menumpuk di usus dapat menyebabkan cairan merembes keluar di sekitarnya, sehingga tampak seperti diare. Karena penanganannya berbeda, kondisi ini perlu dinilai dokter.
|
Segera periksa ke dokter atau IGD bila diare disertai: • Tinja berdarah atau berwarna hitam seperti aspal • Demam tinggi yang tidak turun • Nyeri perut hebat atau perut sangat kembung dan keras • Tanda dehidrasi: sangat haus, mulut kering, urine sedikit dan pekat, pusing, lemas, jantung berdebar • Muntah terus-menerus sehingga tidak bisa minum • Diare lebih dari 6 kali sehari atau sangat deras • Kesadaran menurun, bingung, atau sulit dibangunkan • Diare pada bayi, balita, lansia, ibu hamil, atau orang dengan daya tahan tubuh lemah |
Dehidrasi adalah bahaya paling umum dari diare, dan dapat berkembang cepat, terutama pada anak kecil dan lansia.
|
Kelompok |
Tanda dehidrasi |
|
Dewasa |
Haus berat, mulut dan bibir kering, buang air kecil jarang dengan urine gelap, pusing saat berdiri, lemas, jantung berdebar |
|
Bayi dan anak |
Rewel atau sangat lemas, menangis tanpa air mata, mulut kering, mata cekung, ubun-ubun cekung pada bayi, popok kering lebih dari beberapa jam, sangat haus |
Meski belum ada tanda bahaya di atas, konsultasikan ke dokter bila:
• Diare berlangsung lebih dari 2 minggu, atau sering hilang timbul
• Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
• Diare membangunkan Anda di malam hari
• Diare muncul selama atau setelah minum antibiotik
• Anda berusia di atas 45 tahun dan baru pertama kali mengalami perubahan pola buang air besar
• Ada riwayat keluarga dengan kanker usus besar atau penyakit radang usus
• Diare muncul setelah bepergian atau setelah minum air yang tidak dimasak
• Pada bayi dan anak kecil, jangan menunggu berhari-hari. Segera bawa ke dokter bila diare tidak membaik atau ada tanda dehidrasi
Dokter akan menanyakan lama keluhan, bentuk dan frekuensi tinja, pola makan, obat yang dikonsumsi, riwayat bepergian, dan riwayat keluarga. Bergantung pada kondisi Anda, pemeriksaan lanjutan dapat meliputi:
• Pemeriksaan tinja untuk mencari infeksi, parasit, darah, atau tanda peradangan
• Pemeriksaan darah, seperti darah lengkap, elektrolit, dan fungsi tiroid
• USG abdomen untuk melihat organ perut
• Tes intoleransi makanan atau penyakit celiac, bila dicurigai
• Kolonoskopi untuk melihat langsung kondisi usus besar dan, bila perlu, mengambil sampel jaringan
Tidak semua pasien memerlukan seluruh pemeriksaan ini. Dokter akan memilih yang paling sesuai dengan keluhan Anda.
|
Boleh dilakukan |
Sebaiknya dihindari |
|
Minum cairan sedikit-sedikit tetapi sering, terutama oralit sesuai petunjuk kemasan |
Minum obat penghenti diare atau antibiotik tanpa resep, terutama bila ada demam atau tinja berdarah |
|
Tetap makan makanan lunak dan mudah dicerna, seperti bubur, nasi, pisang, dan kentang rebus |
Makanan pedas, berminyak, dan bersantan |
|
Istirahat cukup |
Kopi, alkohol, minuman bersoda, dan minuman berpemanis buatan |
|
Cuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum makan |
Susu dan olahannya bila diare bertambah setelah mengonsumsinya |
|
Catat frekuensi dan bentuk tinja, serta makanan atau obat yang baru dikonsumsi |
Menahan diri untuk tidak ke dokter karena merasa "nanti juga sembuh" |
Pada anak, pemberian oralit dan zinc mengikuti anjuran tenaga kesehatan. Langkah di rumah ini membantu mencegah dehidrasi, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan medis bila diare berkepanjangan.
1. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, dan setelah dari toilet
2. Minum air yang dimasak sampai matang
3. Cuci bahan makanan dengan bersih dan masak hingga matang sempurna
4. Simpan makanan dengan benar dan hindari makanan yang sudah lama atau berbau
5. Jaga kebersihan jamban dan lingkungan
6. Untuk bayi, lengkapi imunisasi sesuai jadwal, termasuk vaksin rotavirus sesuai anjuran dokter anak
Diare yang tidak kunjung sembuh tidak perlu ditebak-tebak penyebabnya. Tim dokter di RS Efarina Etaham Pematangsiantar siap membantu memeriksa dan menemukan penyebabnya, sehingga penanganan yang diberikan tepat sasaran.
|
Informasi Kontak & Layanan Alamat: Jl. Pendeta J.Wismar Saragih No.1, Kel. Bane, Kec. Siantar Utara, Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara 21137 Telepon / WhatsApp: -081263978886 Jam poliklinik Penyakit Dalam / Anak: Senin-Jumat 09.00-17.00 WIB, Sabtu 09.00-15.00 Pemeriksaan tersedia: pemeriksaan tinja, laboratorium, USG, kolonoskopi, dll. sesuai layanan RS IGD 24 jam: (0622) 7434507 Buat Janji Konsultasi Sekarang |
Diare akut akibat infeksi ringan biasanya membaik dalam beberapa hari dan umumnya kurang dari 2 minggu. Jika berlangsung lebih dari 2 minggu, atau ada tanda bahaya, sebaiknya periksa ke dokter.
Diare yang hilang timbul dapat disebabkan intoleransi makanan, IBS, penyakit radang usus, efek obat, atau infeksi yang belum tuntas. Penyebab pastinya perlu dipastikan lewat pemeriksaan dokter.
Sebaiknya tidak, terutama bila disertai demam atau tinja berdarah, karena obat penghenti diare dapat memperburuk beberapa jenis infeksi. Antibiotik hanya boleh digunakan atas resep dokter. Gunakan oralit untuk mencegah dehidrasi sambil menunggu pemeriksaan.
Sebagian kecil kasus dapat berkaitan dengan kelainan serius di usus besar, terutama bila disertai tinja berdarah, berat badan turun, anemia, atau perubahan pola buang air besar pada usia di atas 45 tahun. Sebagian besar penyebabnya bukan kanker, tetapi keluhan ini tetap perlu diperiksa.
Apakah diare pada anak boleh menunggu sembuh sendiri?
Diare pada bayi dan anak dapat menyebabkan dehidrasi dengan cepat. Berikan oralit dan segera bawa ke dokter bila diare tidak membaik, anak tampak lemas, tidak mau minum, muntah terus-menerus, atau tinjanya berdarah.
Pada dewasa umumnya dokter spesialis penyakit dalam, atau konsultan gastroenterologi-hepatologi untuk kasus yang lebih kompleks. Pada anak, dokter spesialis anak.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi, diagnosis, atau pengobatan dari tenaga medis. Jika Anda mengalami kondisi darurat, segera hubungi IGD atau layanan gawat darurat terdekat.
Referensi: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI); Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI); Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI); World Health Organization (WHO), materi tentang penyakit diare; American College of Gastroenterology.
© Copyright 2022 Rumah Sakit Efarina Siantar. All Rights Reserved.