Pernah merasa cemas sebelum menghadapi ujian, wawancara kerja, atau situasi penting? Rasa cemas sebenarnya merupakan respons normal tubuh ketika menghadapi tekanan atau sesuatu yang dianggap mengancam.
Namun, kecemasan yang terasa sangat kuat, sulit dikendalikan, berlangsung terus-menerus, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dapat menjadi tanda adanya gangguan kecemasan (anxiety disorder).
Gangguan kecemasan bukan sekadar rasa khawatir biasa. Kondisi ini dapat memengaruhi pikiran, emosi, perilaku, tidur, pekerjaan, hubungan sosial, bahkan menimbulkan berbagai gejala fisik.
Menurut World Health Organization (WHO), gangguan kecemasan merupakan kelompok gangguan mental yang ditandai oleh rasa takut dan kekhawatiran berlebihan serta dapat menyebabkan tekanan psikologis dan gangguan fungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu, apa saja gejala gangguan kecemasan, apa penyebabnya, dan kapan seseorang perlu berkonsultasi dengan dokter?
Gangguan kecemasan adalah kelompok kondisi kesehatan mental yang melibatkan rasa takut atau kekhawatiran berlebihan dan sulit dikendalikan, yang dapat berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Setiap orang dapat mengalami kecemasan. Rasa cemas dapat muncul ketika menghadapi masalah pekerjaan, kondisi kesehatan, masalah keluarga, pendidikan, keuangan, atau situasi yang tidak pasti.
Yang membedakan kecemasan biasa dengan gangguan kecemasan bukan hanya keberadaan rasa cemas, tetapi juga intensitas, durasi, kemampuan mengendalikan kecemasan, serta dampaknya terhadap kehidupan seseorang.
Pada gangguan kecemasan, seseorang dapat mengalami ketakutan atau kekhawatiran yang berlebihan, sulit dikendalikan, dan membuatnya menghindari situasi tertentu atau kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Tidak.
Merasa cemas sesekali merupakan hal yang normal.
Misalnya, seseorang dapat merasa gugup sebelum presentasi, khawatir ketika menunggu hasil pemeriksaan kesehatan, atau takut menghadapi situasi yang belum pernah dialami sebelumnya.
Kecemasan menjadi lebih perlu diperhatikan ketika rasa takut atau khawatir:
terasa berlebihan dibandingkan situasinya;
sulit dikendalikan;
terjadi berulang atau menetap;
menyebabkan seseorang menghindari aktivitas tertentu;
mengganggu pekerjaan atau sekolah;
mengganggu hubungan dengan orang lain;
mengganggu tidur;
atau menyebabkan tekanan yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, seseorang tidak dapat menentukan sendiri bahwa dirinya mengalami gangguan kecemasan hanya berdasarkan satu atau dua gejala. Diagnosis memerlukan evaluasi oleh tenaga kesehatan.
Gejala gangguan kecemasan dapat muncul dalam bentuk gejala psikologis, kognitif, perilaku, maupun fisik.
Tidak semua orang mengalami gejala yang sama.
Salah satu gejala yang paling umum adalah rasa khawatir yang berlebihan terhadap berbagai hal.
Seseorang mungkin terus memikirkan kemungkinan buruk, sulit menghentikan kekhawatiran, atau merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi meskipun tidak ada ancaman yang jelas.
Pada gangguan kecemasan menyeluruh atau generalized anxiety disorder (GAD), kekhawatiran dapat mencakup berbagai aspek kehidupan dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Orang dengan gangguan kecemasan dapat menyadari bahwa kekhawatirannya mungkin terlalu besar, tetapi tetap kesulitan menghentikannya.
Pikiran mengenai suatu masalah dapat terus berulang dan membuat tubuh maupun pikiran sulit rileks.
Kecemasan dapat membuat seseorang merasa tegang, gelisah, mudah tersinggung, atau seperti selalu berada dalam keadaan waspada.
Kondisi tersebut dapat membuat seseorang sulit merasa tenang meskipun sedang berada di lingkungan yang aman.
Kekhawatiran yang terus-menerus dapat membuat perhatian seseorang sulit terfokus.
Akibatnya, pekerjaan, belajar, mengambil keputusan, atau menyelesaikan tugas sehari-hari dapat menjadi lebih sulit.
Kecemasan dapat disertai kesulitan untuk tidur, sering terbangun, atau merasa sulit mendapatkan istirahat yang cukup.
Gangguan tidur juga dapat memperburuk rasa lelah dan membuat seseorang semakin sulit menghadapi kecemasan.
Kecemasan dapat memicu respons tubuh yang membuat denyut jantung meningkat atau terasa berdebar.
Gejala fisik lainnya dapat berupa berkeringat, gemetar, napas cepat, pusing, atau rasa tidak nyaman pada tubuh.
Pada sebagian orang, kecemasan dapat disertai keluhan seperti mual atau gangguan pada perut.
Namun, keluhan fisik tidak selalu disebabkan oleh kecemasan. Berbagai penyakit fisik juga dapat menimbulkan gejala serupa sehingga evaluasi medis tetap penting bila keluhan menetap atau mengkhawatirkan.
Seseorang yang mengalami kecemasan dapat mulai menghindari tempat, aktivitas, orang, atau situasi tertentu karena takut mengalami kecemasan.
Jika penghindaran tersebut semakin membatasi kehidupan, pekerjaan, pendidikan, atau hubungan sosial, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian.
Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semua gangguan kecemasan.
Penelitian menunjukkan bahwa gangguan kecemasan dapat dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, genetik, psikologis, dan lingkungan. Pengalaman traumatis atau lingkungan yang penuh tekanan juga dapat meningkatkan risiko pada sebagian orang.
Beberapa faktor yang dapat berperan antara lain:
Gangguan kecemasan tertentu dapat muncul dalam keluarga. Memiliki anggota keluarga dengan gangguan kecemasan dapat menjadi salah satu faktor risiko, meskipun hal tersebut tidak berarti seseorang pasti akan mengalami gangguan yang sama.
Pengalaman traumatis atau peristiwa yang sangat menekan dapat berhubungan dengan munculnya gangguan kecemasan pada sebagian orang.
Respons setiap orang terhadap pengalaman traumatis dapat berbeda.
Tekanan hidup yang berat atau akumulasi berbagai masalah dapat berkontribusi terhadap munculnya kecemasan yang berlebihan pada orang yang rentan.
Perbedaan fungsi otak, proses biologis, dan faktor genetik juga sedang diteliti dalam kaitannya dengan gangguan kecemasan.
Gejala kecemasan juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu atau penggunaan, penyalahgunaan, maupun penghentian zat atau obat tertentu.
Beberapa kondisi medis yang dapat berkaitan dengan gejala seperti kecemasan antara lain gangguan tiroid, penyakit tertentu pada jantung atau pernapasan, serta kondisi medis lainnya. Karena itu, gejala kecemasan yang baru muncul atau tidak biasa perlu dievaluasi secara tepat.
Gangguan kecemasan bukan hanya satu kondisi.
WHO menyebutkan beberapa jenis gangguan kecemasan, antara lain:
Generalized anxiety disorder (GAD) — ditandai kekhawatiran berlebihan terhadap berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari.
Panic disorder — ditandai serangan panik berulang dan kekhawatiran atau perubahan perilaku terkait kemungkinan munculnya serangan berikutnya.
Social anxiety disorder — rasa takut atau khawatir yang intens terhadap situasi sosial karena takut dipermalukan, ditolak, atau dinilai negatif.
Specific phobias — ketakutan intens terhadap objek atau situasi tertentu yang dapat menyebabkan seseorang menghindarinya.
Agoraphobia — rasa takut dan penghindaran terhadap situasi tertentu yang dianggap sulit untuk ditinggalkan atau dapat menimbulkan rasa terjebak, tidak berdaya, atau malu.
Separation anxiety disorder — rasa takut atau cemas berlebihan ketika harus berpisah dari seseorang yang memiliki ikatan emosional kuat.
Jenis gangguan kecemasan dapat memiliki gejala yang saling menyerupai. Karena itu, penentuan diagnosis perlu dilakukan oleh tenaga profesional.
Istilah serangan panik dan gangguan panik sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda.
Serangan panik merupakan episode tiba-tiba berupa ketakutan atau ketidaknyamanan yang sangat intens. Gejalanya dapat mencakup jantung berdebar, berkeringat, gemetar, sesak atau napas terasa berat, pusing, mual, serta rasa akan terjadi sesuatu yang buruk.
Satu serangan panik saja tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan panik.
Gangguan panik dapat didiagnosis ketika seseorang mengalami serangan panik yang berulang dan tidak terduga, disertai kekhawatiran terus-menerus mengenai serangan berikutnya atau perubahan perilaku akibat serangan tersebut.
Anda sebaiknya mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan apabila rasa cemas:
sulit dikendalikan;
terjadi berulang atau menetap;
mengganggu pekerjaan atau pendidikan;
mengganggu hubungan dengan keluarga atau orang lain;
menyebabkan gangguan tidur;
membuat Anda menghindari banyak aktivitas;
menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan;
atau membuat Anda kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari.
WHO merekomendasikan orang dengan gejala gangguan kecemasan untuk mencari bantuan, karena tersedia berbagai penanganan yang efektif.
Jangan menunggu sampai gejala menjadi sangat berat untuk mencari bantuan.
Evaluasi lebih awal dapat membantu tenaga kesehatan memahami keluhan, mencari kemungkinan penyebab, dan menentukan penanganan yang sesuai.
Tidak ada satu pemeriksaan sederhana yang dapat digunakan untuk mendiagnosis seluruh gangguan kecemasan.
Tenaga kesehatan biasanya akan menilai:
jenis gejala yang dialami;
kapan gejala mulai muncul;
seberapa sering gejala terjadi;
berapa lama gejala berlangsung;
situasi yang memicu atau memperburuk gejala;
dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari;
riwayat kesehatan fisik dan mental;
penggunaan obat, alkohol, atau zat tertentu;
serta kemungkinan adanya kondisi medis lain.
Pada kondisi tertentu, dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan apabila terdapat kemungkinan penyebab medis.
Sebagai contoh, gejala yang menyerupai kecemasan dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu. Karena itu, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa semua keluhan seperti jantung berdebar atau sesak disebabkan oleh gangguan kecemasan.
Kabar baiknya, gangguan kecemasan dapat ditangani.
WHO menyebutkan bahwa terdapat berbagai intervensi yang efektif untuk gangguan kecemasan. Penanganan dapat berupa intervensi psikologis dan, pada kondisi tertentu, obat-obatan. Pilihan penanganan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Psikoterapi atau terapi berbicara merupakan salah satu pendekatan penting dalam penanganan gangguan kecemasan.
Salah satu pendekatan yang banyak digunakan dan memiliki bukti penelitian adalah cognitive behavioral therapy (CBT).
CBT membantu seseorang mengenali pola pikir dan perilaku yang berkaitan dengan kecemasan serta mengembangkan cara menghadapi kecemasan secara lebih adaptif.
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan penggunaan obat.
Beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk gangguan kecemasan antara lain kelompok antidepresan tertentu, seperti SSRI atau SNRI. Pemilihan obat, dosis, durasi, dan pemantauan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan berdasarkan kondisi pasien.
Jangan mengonsumsi obat untuk kecemasan tanpa pemeriksaan dan anjuran dokter.
Selain penanganan profesional, beberapa kebiasaan dapat membantu mendukung kesehatan mental, seperti tetap aktif secara fisik, menjaga hubungan sosial, mempelajari teknik relaksasi, dan menghindari alkohol maupun penggunaan zat terlarang yang dapat memperburuk kecemasan.
Namun, perubahan gaya hidup bukan pengganti pemeriksaan atau terapi apabila seseorang sudah mengalami gangguan kecemasan yang mengganggu kehidupannya.
Gangguan kecemasan memiliki berbagai bentuk dan tingkat keparahan. Respons terhadap penanganan juga dapat berbeda pada setiap orang.
Yang penting, gangguan kecemasan merupakan kondisi yang dapat ditangani, dan tersedia terapi yang efektif. WHO menyebutkan bahwa intervensi psikologis efektif untuk gangguan kecemasan dan obat-obatan tertentu juga dapat bermanfaat pada kondisi tertentu.
Karena itu, seseorang tidak perlu menghadapi kecemasan berat sendirian.
Jika kecemasan disertai pikiran untuk menyakiti diri sendiri, keinginan untuk mengakhiri hidup, atau perilaku yang membahayakan keselamatan, jangan menunggu konsultasi rutin.
Segera cari pertolongan medis atau datang ke IGD rumah sakit terdekat. Bila seseorang berada dalam risiko langsung, jangan meninggalkannya sendirian dan usahakan mendapatkan bantuan dari keluarga, orang yang dipercaya, atau layanan kegawatdaruratan setempat.
Gangguan kecemasan juga diketahui dapat berkaitan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan mental lain, termasuk depresi dan pikiran atau perilaku bunuh diri.
Mencari informasi tentang kesehatan mental di internet merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan pengetahuan.
Namun, gejala bukanlah diagnosis.
Jantung berdebar, sulit tidur, sesak, pusing, sulit berkonsentrasi, atau rasa takut dapat memiliki berbagai penyebab. Sebagian dapat berkaitan dengan kecemasan, tetapi sebagian lainnya dapat disebabkan oleh kondisi medis atau faktor lain.
Jika keluhan menetap, berulang, semakin berat, atau mengganggu kehidupan sehari-hari, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan merupakan langkah yang tepat.
Rasa cemas merupakan bagian normal dari kehidupan. Namun, ketika kecemasan menjadi berlebihan, sulit dikendalikan, berlangsung terus-menerus, dan mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian.
Mengenali gejala gangguan kecemasan sejak dini dapat membantu seseorang mendapatkan bantuan yang tepat.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami kecemasan yang mulai mengganggu pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, tidur, atau aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Bagi masyarakat Pematangsiantar dan sekitarnya, mendapatkan bantuan profesional merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
RS Efarina Etaham Pematangsiantar berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat sesuai kebutuhan medis.
Apabila Anda mengalami keluhan kecemasan yang menetap atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasikan kondisi Anda kepada tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan yang sesuai.
Jangan menunggu sampai kecemasan mengendalikan kehidupan Anda. Kenali gejalanya, cari bantuan, dan jaga kesehatan jiwa.
Author : DesmanSiahaan
© Copyright 2022 Rumah Sakit Efarina Siantar. All Rights Reserved.